Aku lahir kedunia yang fana ini pada hari minggu pagi tepat tanggal 27 Agustus 1989, orang tuaku memberiku nama Miftah Farid, nama yang bagus bukan?,mau tau kenapa orang tuaku ngasih nama Miftah Farid, suatu hari aku tanyakan alasannya mengapa ayahku memberikan nama itu, ayahku hanya menjawab :”itu nama, bapak ambil atas alasan tapa’ul saja kepada seorang ulama yang sedang tenar waktu itu”, ya mungkin dengan alasan tafa’ul itu ayahku ingin aku kelak besar nanti jadi ulama yang tenar juga seperti ulama itu. Gimana komputer bisa gak ya aku jadi orang yang diinginkan oleh kedua orang tuaku?? Jawabannya: ADA PADA DIRIKU SENDIRI.
Aku anak ke-2 dari 3 bersaudara, dan semuanya laki-laki. Kakakku yang pertama namanya Abdul Aziz Zainurrahman dan adikku sibungsu namanya Furqon Baharuddin.
Miftah kecil hidup dilingkungan Terminal angkot dan pasar rakyat kecamatan Dayeuhluhur, yang pada waktu itu rumahku berhadap-hadapan sekali dengan terminal angkot itu, dan sebelah kanan muka rumahku langsung berhadapan dengan pasar.
Masa kecil yang selalu menjadi kenangan adalah ketika aku kurang lebih berusia 3 tahun, ceritanya waktu itu kebetulan kedua orang tuaku akan pergi ke kota Jakarta untuk mengunjungi rumah paman Komarudin yang pada waktu itu baru melahirkan anak pertamanya. Dasar anak kecil ketika berangkat aku tidak mikirin apa-apa, yang penting bagiku waktu itu adalah bisa naik mobil karena jujur saja pada watu itu tahun 92'an masih jarang sekali ada mobil sepeti sekarang yang masuk kedesaku belum lagi jalannya yang belum ada aspal hanya rentetan batu-batu yang telah dipotong-potong kecil, begitu kata orang tuaku; dan yang mungkin aku bayangin waktu itu adalah kemanapun pergi aku pasti bisa punya mainan baru,hehe..biasalah resepnya kalau pengen dibeliin mainan ya harus ngorbanin airmata. Yuk kita sambung lagi ceritanya! Sewaktu kami hendak berangkat dari rumah, didepan rumah sudah ada paman Caryono saudara ayahku yang paling bungsu juga mau ikut bersama kami ke Jakarta, akhirnya kami berangkat bersama-sama. Ternyata sebelum ke Jakarta ayahku mengajak kami kerumah Almarhum kakek Kantar Sumadihardja dikota Pandeglang kab. Banten yang pada waktu itu masih belum terjadi pemekaran seperti sekarang ini menjadi sebuah provinsi. Kurang lebih satu hari satu malam kami menginap disana, keesokan harinya baru kami pamitan untuk meneruskan perjalanan ke kota tujuan yaitu Jakarta, dari rumah kakek kami langsung naik angkot ke terminal bis kota Kalideres, nah disinilah kejadian paling berkesan dalam hidupku terjadi. Setelah kami sampai di terminal bus Kalideres, kami langsung mencari bus metromini transport Jakarta yang berwarna orange, maklum zaman dulu belum ada Bus way seperti sekarang. Ketika dicari-cari bus jurusan kalideres jakarta ternyata belum juga ada yang datang dari Jakarta, akhirnya kami menunggu di kursi terminal. Namun tak lama kemudian akhirnya bus yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga, ayahku dengan rasa kasih sayang yang sangat tinggi kepada keluarganya menuntun kami segera naik bus, namun ayahku langsung minta izin mau ke toilet dulu. Ketika kami baru saja duduk di kursi bus, seorang kondektur bus berkata pada kami, ”Maaf para penumpang yang terhormat, sebelum kita berangkat sebentar kami akan mengganti oli dulu”. waktu itu aku masih berdiri menghadap ibuku yang sedang duduk di bangku jok dan aku meminta tolongnya membuka plastik permen, namun bersamaan dari itu terdengar suara bergemuruh yang keras dan ternyata itu adalah suara air carbulator yang menyembur masuk kedalam bus dari pintu depan, dan pada saat itu aku sedang menghadap kebelakang kontan saja punggungku tersambar air calbulator itu, saat itu aku langsung saja tersungkur kelantai lalu tak ingat apa-apa lagi.
Perlahan mataku ku buka mula-mula terlihat samar-samar dan akhirnya aku melihat dengan jelas seorang ABRI memakai baju loreng-loreng sedang berdiri tegak di depan bangku belakang, tak tau kenapa tubuhku kembali lemas dan akhirnya kembali pingsan karena waktu itu aku takut banget kalau lihat sesosok orang yang berpakaian tentara... "bersambung"